Kamis, 25 September 2014

"Andai Kata...."

Foto: ----- :: Andaikata . . . . . ::-----

Seperti yang telah biasa dilakukan oleh Rasulullah ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulang, disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rasulullah berkata, "Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya ?"

Istrinya menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya ?"

"Saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Hanya saja, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong".

"Bagaimana bunyinya ?" desak Rasulullah.

Istri yang setia itu menjawab,"Suami saya mengatakan : 'Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya....' hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai ?"

Rasulullah tersenyum, "Sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru," ujarnya.

Kisahnya begini, pada suatu hari ia sedang bergegas pergi ke Masjid hendak melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan, ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di Masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "Andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke Masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanyalebih besar pula.

"Ucapan lainnya, ya Rasulullah ?" tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab, "Adapun ucapannya yang kedua, yaitu tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke Masjid pagi-pagi, sedangkan saat itu cuaca sangat dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, dan kemudian diberikannya kepada lelaki tersebut. Sedangkan mantelnya yang baru itu dipakainya sendiri. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, 'Coba andaikan yang kuberikan kepadanya adalah mantelku yang baru dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

"Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah ?" tanya sang istri semakin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan, "Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan ? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak makan, tiba-tiba seorang musafir (orang yang sedang mengadakan perjalanan) mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak (sakaratul maut), ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, 'Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda'".

Memang begitulah keadilan Allah. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik sebetulnya kita juga yang akan beruntung, bukan orang lain. Lantaran, segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk, akibatnya juga akan menimpa kita diri kita sendiri.Karena itulah Allah mengingatkan : "Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula". (Surat Al Isra' : 7)

---------- www.hikmah-story.blogspot.com ----------

Seperti yang telah biasa dilakukan oleh Rasulullah ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulang, disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rasulullah berkata, "Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya ?"

Istrinya menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya ?"

"Saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Hanya saja, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong".

"Bagaimana bunyinya ?" desak Rasulullah.

Istri yang setia itu menjawab,"Suami saya mengatakan : 'Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya....' hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai ?"

Sabtu, 20 September 2014

Kisah Nyata Di Amerika Serikat , Bukti keutamaan ayat kursi


rain_splash_1

Kisah Nyata Di Amerika Serikat , Bukti keutamaan ayat kursi


Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal Asia yang mengenakan jilbab.
Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman . Suasana jalan setapak sepi . Ia melewati jalan pintas.
Di ujung jalan pintas itu, dia melihat ada sosok pria Kaukasian. Ia menyangka pria itu seorang warga Amerika . Tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah. Kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-u
lang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt. Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik ke arah pria itu. Orang itu asik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.
Keesokan harinya , wanita itu melihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam. Dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya di lorong gelap itu. Karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan pintas tersebut.
Hati muslimah ini pun tergerak karena wanita tadi melintas jalan pintas itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana. Dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.
Muslimah ini pun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tersebut, karena ia menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.
Melalui kamera rahasia, akhirnya muslimah ini pun bisa menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Iia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok .
Melalui interogasi polisi akhirnya orang yang diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannyaa. Tergerak oleh rasa ingin tahu, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi.
Muslimah : “Apa Anda melihat saya? Saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kauperkosa itu? Mengapa Anda hanya menggangunya tapi tidak mengganggu saya? Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa padahal waktu itu saya sendirian?”
Penjahat : “Tentu saja saya melihatmu malam tadi. Anda berada di sana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu. Saya tidak berani mengganggu Anda. Aku melihat ada dua orang besar di belakang Anda pada waktu itu. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda.”
Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya penuh syukur dan terus mengucap syukur. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi.
***
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain.
Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar berkata, ”Yang paling baik digunakan untuk melawan jin yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah dzikrullah (dzikir kepada Allah) dan bacaan Al Qur`an. Dan yang paling besar dari itu ialah bacaan ayat kursi, karena sesungguhnya orang yang membacanya akan selalu dijaga oleh penjaga dari Allah, dan ia tidak akan didekati oleh setan sampai Subuh, sebagaimana telah shahih hadits tentang itu”.
Sumber: Kisah Inspiratif Islam

Kamis, 18 September 2014

PESAN SANG GURU BESAR UNTUK PARA ORANG TUA DAN GURU



Foto: PESAN SANG GURU BESAR UNTUK PARA ORANG TUA DAN GURU 

"Dulu saat masih muda dan kuat aku ingin menjadi orang pintar dan hebat, tapi kini aku hanya ingin menjadi lebih bijaksana."

- Rumi -
Ahli Filsafat Islam, Penyair dan Seniman
Lahir 604 Hijriah atau 30 September 1207 Masehi. 

Mengapa sang filusuf besar dunia ini akhirnya ingin menjadi orang bijak ketimbang orang hebat dan pintar ?

Mungkin kisah ini bisa membantu menjelaskannya pada kita. 

Suatu hari disebuah desa dekat Hutan ada seorang anak muda yang cerdas dan pintar, yang sering mengamati burung2 di hutan tersebut. 

Saking cerdasnya hanya dengan kicauannya saja, anak tersebut selalu tepat menyebutkan jenis apa burung tersebut, dan bahkan tidak hanya itu dari kepakan sayap saja, dari kejauhan ia bisa menduga burung apa gerangan yang ada di atas pohon di hutan tsb.

Karena cerdasnya ia oleh penduduk desa di panggil sebagai "si Cerdas". 

Namun demikian di desa itu juga terkenal ada seorang pertapa yang terkenal sangat bijak; dan karena pemikirannya yang bijak di panggilan pertapa tersebut "si Bijak."

Suatu ketika si anak ini ingin bahwa penduduk desa lebih menghormati dirinya dari pada si Bijak pertapa tadi, maka akhirnya ia mengajak penduduk desa untuk ramai2 mendatangi si bijak bersama anak tersebut untuk menguji pemikiran siapa yang lebih baik di antara mereka.

Pagi2 sekali si Cerdas sudah pergi ke hutan untuk menangkap seekor burung kecil, lalu burung di pegang dan di bawa ketempat tinggal sang pertapa.

Rupanya disana sudah banyak sekali penduduk dusun tersebut berkumpul untuk menunggu datangnya Si Cerdas untuk menunjukkan kebolehannya di depan Si Bijak, sang pertapa. 

Wah senang sekali hati si anak cerdas ini; 
"Sekaranglah saatnya penduduk kampung bisa melihat siapa diantara kita yang lebih hebat dan lebih patut di hormati di kampung ini". Pikirnya dalam batin. 

Terlihat disana Sang pertapa sedang duduk santai memejamkan mata, sambil duduk bersila di atas pertapaanya dengan posisi teratai. 

Tiba2 dari kejauhan di depan sang pertapa anak ini berteriak; 
"Hai pertapa aku ingin mengujimu apakah memang benar jika kamu itu tahu segalanya? "

Mendengar teriakan yang sangat keras itu Sang Pertapa perlahan membuka matanya yang terpejam, dan tersenyum lembut sambil berkata; "Ada apa anakku ?"

Lalu sekali lagi anak itu berteriak: "Aku ingin membuktikan apakah memang benar kamu adalah orang yang bisa mengetahui segalanya ?"

Lalu Sang pertapa kembali tersenyum lembut.....tanpa berujar apapun.

"Kalau memang kamu tahu segalanya; ini di tanganku aku sedang memegang seekor burung kecil"
(tangan anak itu di sembunyikan di belakang pinggangnya hingga tak terlihat oleh Sang Pertapa).

"Coba kamu tebak apakah burung yang ada di genggaman tanganku ini dalam keadaan hidup atau mati ?"

Lalu pertapa itu kembali tersenyum lembut.....

"Ayo cepat tebak !", teriak si anak muda dengan tidak sabar.

"Ayo tebak, jangan hanya tersenyum2 saja, ayo segera buktikan jika memang tebakanmu kali ini benar, agar penduduk desa ini bisa segera mengetahui kamu atau aku yang lebih hebat. Teriak si anak dengan lantangnya."

Sambil tersenyum lembut; Sang pertapa menjawab; 
"Tentu saja burung yang ada di tanganmu itu dalam keadaan mati Nak" 

Ha...ha....ha...., anak itu tertawa dengan puas, lihatlah ternyata kali ini kamu salah, dan betapa bodohnya kamu yang tidak bisa menjawab pertanyaanku yang sangat mudah ini. Teriak anak itu. Dan penduduk desa itupun bersorak2 mengelu-elukan si Anak cerdas ini. 

Dasar orang tua bodoh, menjawab masalah seperti ini saja kamu tidak bisa dan jalas2 salah.

Sambil tersenyum Pertapa Bijak itu berkata; 

"Anakku sayang; tidak apa nak, kali ini aku menjadi terlihat bodoh didepan semua orang yang hadir disini"

"Ya terlihat bodoh untuk membuat burung itu tetapa hidup dan bisa terbang kembli ke sarangnya di atas pohon sana untuk memberi makan anak-anaknya."

"Karena aku sadar bahwa nasib burung kecil itu dan anaknya sangat tergantung dari jawabanku kepadamu."

Dan sejenak penduduk desa tertegun mendengar jawaban sang pertapa bijak tersebut, dan setelah memahami arti ucapan dari sang pertapa; maka serentak penduduk desa tersebut berbaris dan memberi hormat yang tulus pada sang pertapa bijak tersebut. Begitu pula si anak cerdas tadi, perlahan2 iapun membungkukan badannya untuk memberi hormatnya pada Sang pertapa bijak tadi.

Nah... bagi anda sendiri pelajaran apakah yang bisa kita dapatkan dari kisah ini...?

- by ayah edy -

www.ayahkita.blogspot.com

Unduh talkshow ayah edy: www.ayahedyguru.tk
Lihat talkshow ayah edy di tv: www.ayahedy.tk

"Dulu saat masih muda dan kuat aku ingin menjadi orang pintar dan hebat, tapi kini aku hanya ingin menjadi lebih bijaksana."

- Rumi -
Ahli Filsafat Islam, Penyair dan Seniman
Lahir 604 Hijriah atau 30 September 1207 Masehi.

Mengapa sang filusuf besar dunia ini akhirnya ingin menjadi orang bijak ketimbang orang hebat dan pintar ?

Mungkin kisah ini bisa membantu menjelaskannya pada kita.

Suatu hari disebuah desa dekat Hutan ada seorang anak muda yang cerdas dan pintar, yang sering mengamati burung2 di hutan tersebut.

Saking cerdasnya hanya dengan kicauannya saja, anak tersebut selalu tepat menyebutkan jenis apa burung tersebut, dan bahkan tidak hanya itu dari kepakan sayap saja, dari kejauhan ia bisa menduga burung apa gerangan yang ada di atas pohon di hutan tsb.

Karena cerdasnya ia oleh penduduk desa di panggil sebagai "si Cerdas".

Namun demikian di desa itu juga terkenal ada seorang pertapa yang terkenal sangat bijak; dan karena pemikirannya yang bijak di panggilan pertapa tersebut "si Bijak."

Suatu ketika si anak ini ingin bahwa penduduk desa lebih menghormati dirinya dari pada si Bijak pertapa tadi, maka akhirnya ia mengajak penduduk desa untuk ramai2 mendatangi si bijak bersama anak tersebut untuk menguji pemikiran siapa yang lebih baik di antara mereka.

Pagi2 sekali si Cerdas sudah pergi ke hutan untuk menangkap seekor burung kecil, lalu burung di pegang dan di bawa ketempat tinggal sang pertapa.

Rupanya disana sudah banyak sekali penduduk dusun tersebut berkumpul untuk menunggu datangnya Si Cerdas untuk menunjukkan kebolehannya di depan Si Bijak, sang pertapa.

Wah senang sekali hati si anak cerdas ini;
"Sekaranglah saatnya penduduk kampung bisa melihat siapa diantara kita yang lebih hebat dan lebih patut di hormati di kampung ini". Pikirnya dalam batin.

Terlihat disana Sang pertapa sedang duduk santai memejamkan mata, sambil duduk bersila di atas pertapaanya dengan posisi teratai.

Tiba2 dari kejauhan di depan sang pertapa anak ini berteriak;
"Hai pertapa aku ingin mengujimu apakah memang benar jika kamu itu tahu segalanya? "

Mendengar teriakan yang sangat keras itu Sang Pertapa perlahan membuka matanya yang terpejam, dan tersenyum lembut sambil berkata; "Ada apa anakku ?"

Lalu sekali lagi anak itu berteriak: "Aku ingin membuktikan apakah memang benar kamu adalah orang yang bisa mengetahui segalanya ?"

Lalu Sang pertapa kembali tersenyum lembut.....tanpa berujar apapun.

"Kalau memang kamu tahu segalanya; ini di tanganku aku sedang memegang seekor burung kecil"
(tangan anak itu di sembunyikan di belakang pinggangnya hingga tak terlihat oleh Sang Pertapa).

"Coba kamu tebak apakah burung yang ada di genggaman tanganku ini dalam keadaan hidup atau mati ?"

Lalu pertapa itu kembali tersenyum lembut.....

"Ayo cepat tebak !", teriak si anak muda dengan tidak sabar.

"Ayo tebak, jangan hanya tersenyum2 saja, ayo segera buktikan jika memang tebakanmu kali ini benar, agar penduduk desa ini bisa segera mengetahui kamu atau aku yang lebih hebat. Teriak si anak dengan lantangnya."

Sambil tersenyum lembut; Sang pertapa menjawab;
"Tentu saja burung yang ada di tanganmu itu dalam keadaan mati Nak"

Ha...ha....ha...., anak itu tertawa dengan puas, lihatlah ternyata kali ini kamu salah, dan betapa bodohnya kamu yang tidak bisa menjawab pertanyaanku yang sangat mudah ini. Teriak anak itu. Dan penduduk desa itupun bersorak2 mengelu-elukan si Anak cerdas ini.

Dasar orang tua bodoh, menjawab masalah seperti ini saja kamu tidak bisa dan jalas2 salah.

Sambil tersenyum Pertapa Bijak itu berkata;

"Anakku sayang; tidak apa nak, kali ini aku menjadi terlihat bodoh didepan semua orang yang hadir disini"

"Ya terlihat bodoh untuk membuat burung itu tetapa hidup dan bisa terbang kembli ke sarangnya di atas pohon sana untuk memberi makan anak-anaknya."

"Karena aku sadar bahwa nasib burung kecil itu dan anaknya sangat tergantung dari jawabanku kepadamu."

Dan sejenak penduduk desa tertegun mendengar jawaban sang pertapa bijak tersebut, dan setelah memahami arti ucapan dari sang pertapa; maka serentak penduduk desa tersebut berbaris dan memberi hormat yang tulus pada sang pertapa bijak tersebut. Begitu pula si anak cerdas tadi, perlahan2 iapun membungkukan badannya untuk memberi hormatnya pada Sang pertapa bijak tadi.

Nah... bagi anda sendiri pelajaran apakah yang bisa kita dapatkan dari kisah ini...?

- by ayah edy -

Sumber: Status Facebook Ayah Eddy Parenting www.ayahkita.blogspot.com





Rabu, 17 September 2014

Inspirasi : Jangan Mengeluh (sebuah kisah nyata)

Alkisah, ada seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di sebuah daerah padang rumput yang luas. Suatu hari, karena ternak yang dipunyainya semakin banyak, sang bangsawan memilih 2 orang anak muda dari keluarga yang miskin untuk dipekerjakan. Yang berbadan tinggi dan tegap dipekerjakan sebagai pengurus kuda. Sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil dipekerjakan sebagai pengurus ternak kambingnya.

Setelah beberapa saat, si badan tegap dengan arogan berkata kepada si badan kecil:
 "Hai sobat. Aku lebih besar badannya dari badanmu. Aku juga lebih tua darimu. Mulai besok, kita bertukar tempat. Aku memilih untuk mengurus kambing. Dan kamu menggantikan aku mengurus kuda. Awas kalau tidak mau! Dan awas ya, jangan laporkan masalah ini ke tuan kita! Kalau kamu berani lapor atau menolak, tahu sendiri akibatnya! Aku habisi badan kecilmu itu!"

Sore hari, dengan muka murung dan langkah gontai dia pulang ke rumah. Sesampai di rumah, melihat muka murung dan kegalauan anaknya, si ibu bertanya: "Nak, ada apa? Ada masalah apa? Coba ceritakan ke ibu".
Dengan kasih sayang dan kelembutan, mereka berbincang saat makan malam.
Si anak pun menceritakan peristiwa yang tadi terjadi. Dengan bersungut-sungut si anak melanjutkan: "Sungguh tidak adil kan, Bu. Dia mengancam dan memaksa aku untuk mengurus kuda-kuda liar. Dia yang berbadan besar memilih mengurus kambing. Badanku kecil begini, bagaimana aku bisa mengejar-ngejar kuda yang begitu besar. Aduuuh Bu...sungguh jelek nasibku."

Sambil menunduk lesu dia menghabiskan santap malamnya.
Si ibu dengan senyum bijak berkata, "Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untuk masa depanmu."

Sejak saat itu, si anak kurus itu dengan susah payah setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengurus kuda-kuda yang bertubuh tegap, besar, dan masih liar. Dia harus jatuh bangun mengejar mereka, kadang terkena tendangan, bahkan pernah terinjak hingga terluka parah. Dari hari ke hari keahlian dan kemampuannya menguasai kuda-kuda pun semakin membaik. Tidak terasa, tubuhnya pun berkembang menjadi tinggi, tegap dan perkasa.

Hingga suatu hari, terjadi pecah perang antarnegara. Kerajaan membutuhkan prajurit pasukan berkuda. Dan si pemuda pun terpilih sebagai pemimpin pasukan berkuda karena kepiawaiannya mengendalikan kuda-kuda.

Di kemudian hari, si pemuda berhasil memimpin dan memenangkan perang yang dipercayakan kepadanya dan dikenal banyak orang karena kebesaran namanya. Dia adalah pemimpin bangsa mongol yang tersohor, bernama: Genghis Khan

Sahabat yang berbahagia,
Dalam putaran kehidupan sering kali kita dihadapkan pada keadaan yang sepertinya membuat kita dirugikan, menderita, dan kita pun tidak berdaya kecuali harus menerimanya. Kalau kita larut dalam kekecewaan, marah, emosi, pasti kita sendiri yang akan bertambah menderita.

Lebih baik kita anggap ketidaknyamanan sebagai latihan mental dan kesabaran. Mari berjiwa besar dengan tetap melakukan aktivitas yang positif, sehingga sampai suatu nanti pasti perubahan lebih baik, lebih luar biasa akan kita nikmati!

Salam sukses, Luar Biasa!

Andrie Wongso

Rabu, 10 September 2014

Perumpamaan Ampunan Allah



Aisyah namanya, ia masih berusia tujuh tahun. Tahun ini adalah tahun pertamanya di sekolah dasar. Prestasinya biasa saja karena kami tidak ingin memaksanya belajar setiap kali ulangan atau tes evaluasi belajar. Meski begitu ia putri yang pandai menurut saya karena seringnya ia membuka pembicaraan dengan topik yang mungkin tidak pernah kita duga.

Sore itu saya mengendarai mobil untuk menjamput istri dari tempat kerjanya. Ditemani putri kecil kami tersebut saya mngendarai mobil menembus hujan yang cukup deras sore itu turun. Saya harus tetap fokus mengemudi mengingat banyak bagian jalan menjadi tergenang dan sedikit licin.


Setelah sekian lama Aisyah diam sambil menikmati hujan dalam perjalanan kami, tiba-tiba ia sedikit mengagetkan fokus saya pada kemudi, memecah keheningan sore itu.

“Ayah, aku sedang memikirkan sesuatu...”

Biasanya jika sedang seperti itu maka selanjutnya ia akan bercerita. Sambil sedikit melambatkan laju kendaraan saya menjawab pembicaraannya, “Ada apa nak, apa yang kamu pikirkan?

“Hujan.” Jawabnya. “Hujan ini seperti dosa-dosa kita.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu. Bukankah hujan adalah rahmat dari Allah?”

“Betul Ayah, tapi itu seperti perumpamaan dosa-dosa kita. Dan wiper (penghapus air hujan) di kaca itu seperti ampunan Allah.”

Sedikit kaget bercampur dengan keingintahuan, saya melanjutkan pembicaraan tersebut dengan bertanya, “Lalu apa yang kamu maksud dengan wiper ini, apa maksudnya?”

Tanpa ragu-ragu ia menjawab dengan nada datar tapi terdengar tegas, “Kita terus berbuat dosa dan Allah terus datang menghapusnya dengan ampunan.”

“Kamu benar nak, Allah akan selalu menerima taubat dan ampunan hambaNya tak perduli seberapa besar dan seberapa sering dosa itu terjadi, Allah akan selalu mengampuni, selama nafas kita belum sampai di tenggorokan. Itulah tanda bahwa Allah sangat sayang pada kita”

Dua buah ayat yang pasti akan saya tunjukkan padanya sesampai di rumah.

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).


Dan setiap kali hujan saya selalu mengingat percakapan dengan anak kami tersebut saat menghidupkan wiper kaca mobil. Terima kasih Ya Allah yang telah memberikan putri kecil kami ke-faham-an dan kehalusan tutur katanya.

Senin, 08 September 2014

Kisah Anggur Sang Penguasa


Suatu ketika Nuh bin Maryam, penguasa dan qodhi diwilayah Maru di turkmenistan, hendak menikahkan putrinya yang cantik, cerdas, dan anggun.

Maka berdatanganlah para pembesar dan putra2 bangsawan melamarnya dgn menawarkan mas kawin yang banyak,
Namun sang putri terlihat enggan menerima pinangan-pinangan itu.

Hal itu membuah sang Ayah bingung, dan ia pun tak mau memilihkan calonuntuk putrinya, karena akan mengecewakan yang lainnya.

Hingga suatu ketika ia benengok kebun anggur-nya, yang sejak 2 bulan lalu, dijaga oleh Mubarok seorang budak dari india.

Nuh berkata
"Hai Mubarok, ambilkan aku setangkai anggur"
Lalu mubarok memberikan anggur tsb, tapi ketika dimakan rasanya masam.
Lalu Nuh meminta dipetikkan lagi, ternyata kembali dapat yang masam.

Nuh bertanya
"Subhanallah, sudah 2 bulan kau tinggal di kebun ini, tapi belum bisa mengerti juga mana anggur yang manis atau asam"
Mubarok menjawab

"... Hamba belum pernah merasakannya tuan, jadi belum mengerti"
"Kenapa kau tidak mencobanya" tanya Nuh

Mubarok menjawab
"Karena tuan hanya menyuruh hamba mengurusnya, dan tidak menyuruh memakannya, maka hamba tidak akan berkhianat"

Rupanya Mubarok bukan sekedar seorang budak, namun seorang yang ahli ibadah dan taat pada Allah.

Singkat kisah Nuh menjodohkan Mubarok kpada Putrinya,
Masya Allah...
Sang putri cantik itu menerima sang budak jadi suaminya, padahal pangeran2 tampan telah ia tinggalkan

Dan dari mereka lahirlah Abdullah bin Mubarok seorang Ulama Besar dikalangan Tabiin.

Hikmah:
.͡Memilih suami/istri itu utamakan taqwanya, jangan menolaknya karena tidak ganteng dan tidak kaya.
.͡Menjaga Amanah dan menjauhi yang syubhat-haram, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik
.͡Generasi terbaik lahir dari teladan orang tuanya

Sumber : Status ustadz Ismeidas

Kamis, 04 September 2014

KISAH PROSES ELANG YANG MENYAKITKAN


Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, lho! Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan. Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan, suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.
Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang, berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.
Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.
Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

Selalu ada proses "menyakitkan"dari mereka yang sukses.

Selasa, 02 September 2014

Sweet Story



- "Ketika suatu hari aku sedang merenungkan kehidupanku, aku menyadari bahwa sahabat yang selama ini kubutuhkan dalam hidup adalah kekasihku sendiri. Aku selalu ingin bersama dengannya, bahkan di saat-saat kami hanya bersama tanpa melakukan kegiatan apapun, aku merasakannya begitu spesial. Kami telah hidup bersama cukup lama, membicarakan banyak hal bersama, mengurusi kebutuhan finansial kami bersama. Memikirkan bagaimana caraku harus melamarnya lebih sulit daripada membayangkan diriku menikah dengannya." -- Aaron C.